Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Monday, December 9, 2013

Merantaulah.....

Merantaulah.... agar kamu tau bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus pulang.

Merantaulah...kamu akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga.

Merantaulah....kamu akan mengerti alasan kenapa kamu harus kembali.

Merantaulah....akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya...pada kampung halaman dan mereka yang kamu tinggalkan.

Merantaulah... engaku akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama orang tua dan sodara ketika pulang ke rumah.

Merantaulah.... kamu akan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepasmu pergi jauh.

Merantaulah... kamu akan lebih mengerti arti sebuah perpisahan.

Merantaulah.... semakin jauh tanah rantauan, semakin jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang...

Sekali lagi....Merantaulah...kamu akan tau kenapa kamu harus pulang dan kamu akan tau siapa yang akan kamu rindukan.......


Tuesday, July 26, 2011

Anak pintar = jago ngitung..

Sedih.. saya tidak pandai berhitung.  Bukan artinya saya bego bangeth sih..well..bisalah hitungan dasar seperti 1+1=2 ... tapi coba deh sekarang mulai ingat lagi kali-kalian dari perkalian satu sampe sepuluh...hayoooo bisa nggak secepat dulu? Inget bangeth dulu suka ditungguin pake penggaris.. kog penggaris? karena penggaris itu akan melayang di kaki or tangan kalo kita nggak bisa atau lupa kali-kalian 7 atau 8 atau 9..hu..hu..hu...

Dulu waktu kecil paling deg-deg an kalo mau liat rapor karena di bagian hitung-hitungan pasti nilainya rendah.. padahal menurut cerita papa saya adalah orang yang jago matematika, fisika, kimia dulu di jaman dia sekolah.  Lalu apakah ini ambil dari genetik ibu? hussssh! nggak baik mikir gitu...sigh...

Karena tau kelemahan yang satu ini , makanya waktu jamannya kuliah langsung berusaha mejauh dari jurusan yang ada hitung-hitungnya *merinding bayanginnya* kog bisa ya cara mikir kita berbeda padahal khan Tuhan memberikan otak yang bentuk dan ukurannya sama lho ... hmmmmmmm

Semakin besar... kalau lagi bareng temen-temen sudah dijadiin bahan tertawaan aja.. kalo soal hitung duit pasti parah... beli ke warung atau supermarket, seandainya yang jualan nggak jujur... wah... saya pasti habis di tipu.. nggak pernah sok ngitung uang kembalian.. selain takut lama.. dan bisa juga jadi bingung sendiri deh.. nanti baru sadar kalo kembaliannya kurang setelah sudah meninggalkan TKP... ya ampun... kenapa gitu bangeth ya? apa harus bawa kalkulator kecil kemana mana? suka kagum sama mereka yang cepet bangeth kalo disuruh ngitung.. apalagi kalo pas ada barang diskon... 10%..20%.. paling gampang sih tinggal nanya mbak2 yang pake stocking dan rok mini itu ..."ini jadi harganya berapa ya mbak?" eh..ternyata banyak juga tuch mbak2 itu yang harus pake kalkulator... hahahahhahaha

Pernah dulu dipanggil boss periksa laporan keuangan... dan mulailah pertanyaan2 soal itung2an di lontarkan.. tangan dan kaki langsung keringat dingin.. berpikir keras...caranya adalah..pura2 ijin ke toilet pas balik bawa kalkulator...hehehehehheheeh.. tapi ternyata boss tau dan bilang dengan sadisnya "kamu nggak pernah belajar berhitung ya dulu?" huuuuuuuuuuuaaaaaaa.... rasa-rasa ingin di telan bumi saat itu juga...woooossshhhhh!

Kenapa cuma dibilang pinter kalo bisa menghitung? Gimana dengan jago nyanyi, jago deklamasi, jago pidato..atau jago main karet?  Itu semua khan membutuhkan keahlian lho... nggak semua cewek dulu waktu kelas 5 SD bisa lompat karet diatas kepala... atau bisa nari pendet bali dengan lirikan mata yang aduhai... :) oh ya...membawakan puisi or deklamasi dengan nada yang diatur se dramatis mungkin itu juga susah !

Seandainya sekarang saya bisa berkomunikasi dengan saya dulu waktu umur 5 tahun, saya akan bilang "jangan nangis kalo nggak bisa kali-kalian... masih banyak hal yang bisa kamu lakukan nanti kalo udah gede...sudah sana main karet lagi !"

Tuesday, July 19, 2011

disadur dari fimela.com .  Sebuah tulisan dari Samuel Mulia.  Bikin bangga dan kagum pada diri sendiri 



Saya bukan berkehendak membeda-bedakan pria dan wanita. Pun tidak sedetik ada di kepala saya dengan menulis artikel mini ini untuk menjatuhkan dan meninggikan salah satu dari dua jenis kelamin yang diciptakan Sang Khalik.  Saya hanya mau jujur saja melihat keduanya. Hasilnya membuat saya kaget. Kaget banget.
1.      Ketika Tuhan menciptakan laki-laki, Ia membutuhkan kromosom perempuan. Sehingga pria itu diberi tanda melalui kromosomnya dengan dua huruf XY. X menggambarkan kromosom perempuan. Sementara untuk menciptakan perempuan, Tuhan tak membutuhkan kromoson Y yang menandakan itu laki-laki. Maka perempuan diberi tanda pada kromosomnya sebagai XX. Jadi istilah tulen itu bukan untuk pria, karena selama hidupnya pria tak akan pernah tulen. Yang pantas menggunakan istilah tulen itu, seharusnya wanita. Tak tahu mengapa, malah laki-laki yang memakainya.
2.     Sebagi seorang Kristiani, saya diajarkan bahwa objektif Tuhan menciptakan wanita adalah sebagai penolong. Saya mikir dengan otak saya yang ada di dengkul, kalau seseorang disebut penolong, mungkinkah ada penolong lebih lemah dari yang ditolong? Jadi dari perkataan itu, saya berpikir wanita itu selain menemani laki-laki, ia adalah tulang punggung segala makhluk hidup.
3.     Maka ungkapan di dunia ini benar adanya. Dengarkan. Di setiap kesuksesan seorang pria, berdiri di belakangnya seorang wanita. Jadi wanita itu sebagai penopang. Bayangkan kalau penopangnya lemah dari yang ditopang, ia tak akan disebut sebagai penolong dan penopang, bukan? Nah, selama ini, saya mikir kalau pria itu yang menopang. Ternyata?
4.     Orang beragama Katolik mempunyai doa yang dikenal sebagai doa Salam Maria, tetapi tak pernah ada doa Salam Yusuf. Bahkan ketika Yesus disalibkan, Ia berkata inilah Ibumu. Tak ada kalimat yang pernah saya baca, Inilah Bapakmu.
5.     Tak ada di dunia ini laki-laki-lahir dari laki-laki. Tetapi untuk mengadakan laki-laki di dunia ini harus membutuhkan wanita. Kalau wanita demo tak mau lagi hamil, maka selesailah cerita pria di dunia ini. Maka saya heran ada pria berani memukuli wanita, menyiksa dan membuat babak belur seseorang yang melahirkan mereka. Itu namanya bukan lagi pengecut, tetapi kurang ajar.
Dan kalau wanitanya kurang ajar menurut pria, dan pantas dihajar, itu menurut saya hebatnya wanita sehingga laki-laki bisa dibuat naik pitam. Maka butir 3 mohon diperhatikan. Wanita itu hebatnya, bisa meninggikan pria tetapi ada masanya ia sangat mampu merendahkan pria. Dan saat direndahkan lah, pria mulai mengambil aksinya. Itu sah-sah saja, orang menjadi tersinggung bisa jadi kalap.. Terus apakah wanita menderita ketika digampar? Mungkin saja, tetapi mereka sudah terbiasa kesakitan. Baca butir selanjutnya.
6.     Wanita itu sudah sejak di masa muda menderita. Waktu mereka datang bulan, mereka berdarah, dan kadang ada yang mengalami kesakitan luar biasa. Di saat yang sama,  para pria bergembira dengan tangannya memenuhi hari masa remajanya dengan masturbasi. Sini menderita, sana enak-enak.
7.     Saat malam pertama, para wanita berdarah. Dan kalau perempuan tak berdarah, dianggap ada yang salah. Jadi mereka sudah terbiasa dianggap salah.
8.     Pada saat wanita hamil, mereka terengah dengan dua beban di badan. Mereka dan bayinya. Yaa..kalau bayinya hanya satu. Bayangkan kalau triplet. Itu masih harus menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai wanita, ibu dan istri. Badan tanpa beban saja sudah gempor, bayangkan masih ada tambahan lagi. Pada saat melahirkan, mereka berdarah lagi. Para pria berdoa dan mengabadikan foto-foto saat kelahiran. Tak ada darah, tak ada penderitaan.
9.     Kalau Anda sedang mengajukan permohonan memiliki kartu kredit, nama siapakah yang harus Anda tulis di lembar permohonan? Nama ibu kandung, bukan? Pernahkah Anda melihat kalau ada bank issuermembutuhkan nama bapak?
Dan yang terakhir ada ungkapan legendaris yang bernilai super tinggi. Surga itu di telapak kaki Ibu. Ada apakah di telapak kaki bapak? Jadi kalau ada pria mengurangajari wanita, itu ia tak sedang mengurangajari wanita yang bersangkutan,  tetapi mengurangajari surga. Kok berani mati?