Saya bukan berkehendak membeda-bedakan pria dan wanita. Pun tidak sedetik ada di kepala saya dengan menulis artikel mini ini untuk menjatuhkan dan meninggikan salah satu dari dua jenis kelamin yang diciptakan Sang Khalik. Saya hanya mau jujur saja melihat keduanya. Hasilnya membuat saya kaget. Kaget banget.
1. Ketika Tuhan menciptakan laki-laki, Ia membutuhkan kromosom perempuan. Sehingga pria itu diberi tanda melalui kromosomnya dengan dua huruf XY. X menggambarkan kromosom perempuan. Sementara untuk menciptakan perempuan, Tuhan tak membutuhkan kromoson Y yang menandakan itu laki-laki. Maka perempuan diberi tanda pada kromosomnya sebagai XX. Jadi istilah tulen itu bukan untuk pria, karena selama hidupnya pria tak akan pernah tulen. Yang pantas menggunakan istilah tulen itu, seharusnya wanita. Tak tahu mengapa, malah laki-laki yang memakainya.
2. Sebagi seorang Kristiani, saya diajarkan bahwa objektif Tuhan menciptakan wanita adalah sebagai penolong. Saya mikir dengan otak saya yang ada di dengkul, kalau seseorang disebut penolong, mungkinkah ada penolong lebih lemah dari yang ditolong? Jadi dari perkataan itu, saya berpikir wanita itu selain menemani laki-laki, ia adalah tulang punggung segala makhluk hidup.
3. Maka ungkapan di dunia ini benar adanya. Dengarkan. Di setiap kesuksesan seorang pria, berdiri di belakangnya seorang wanita. Jadi wanita itu sebagai penopang. Bayangkan kalau penopangnya lemah dari yang ditopang, ia tak akan disebut sebagai penolong dan penopang, bukan? Nah, selama ini, saya mikir kalau pria itu yang menopang. Ternyata?
4. Orang beragama Katolik mempunyai doa yang dikenal sebagai doa Salam Maria, tetapi tak pernah ada doa Salam Yusuf. Bahkan ketika Yesus disalibkan, Ia berkata inilah Ibumu. Tak ada kalimat yang pernah saya baca, Inilah Bapakmu.
5. Tak ada di dunia ini laki-laki-lahir dari laki-laki. Tetapi untuk mengadakan laki-laki di dunia ini harus membutuhkan wanita. Kalau wanita demo tak mau lagi hamil, maka selesailah cerita pria di dunia ini. Maka saya heran ada pria berani memukuli wanita, menyiksa dan membuat babak belur seseorang yang melahirkan mereka. Itu namanya bukan lagi pengecut, tetapi kurang ajar.
Dan kalau wanitanya kurang ajar menurut pria, dan pantas dihajar, itu menurut saya hebatnya wanita sehingga laki-laki bisa dibuat naik pitam. Maka butir 3 mohon diperhatikan. Wanita itu hebatnya, bisa meninggikan pria tetapi ada masanya ia sangat mampu merendahkan pria. Dan saat direndahkan lah, pria mulai mengambil aksinya. Itu sah-sah saja, orang menjadi tersinggung bisa jadi kalap.. Terus apakah wanita menderita ketika digampar? Mungkin saja, tetapi mereka sudah terbiasa kesakitan. Baca butir selanjutnya.
6. Wanita itu sudah sejak di masa muda menderita. Waktu mereka datang bulan, mereka berdarah, dan kadang ada yang mengalami kesakitan luar biasa. Di saat yang sama, para pria bergembira dengan tangannya memenuhi hari masa remajanya dengan masturbasi. Sini menderita, sana enak-enak.
7. Saat malam pertama, para wanita berdarah. Dan kalau perempuan tak berdarah, dianggap ada yang salah. Jadi mereka sudah terbiasa dianggap salah.
8. Pada saat wanita hamil, mereka terengah dengan dua beban di badan. Mereka dan bayinya. Yaa..kalau bayinya hanya satu. Bayangkan kalau triplet. Itu masih harus menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai wanita, ibu dan istri. Badan tanpa beban saja sudah gempor, bayangkan masih ada tambahan lagi. Pada saat melahirkan, mereka berdarah lagi. Para pria berdoa dan mengabadikan foto-foto saat kelahiran. Tak ada darah, tak ada penderitaan.
9. Kalau Anda sedang mengajukan permohonan memiliki kartu kredit, nama siapakah yang harus Anda tulis di lembar permohonan? Nama ibu kandung, bukan? Pernahkah Anda melihat kalau ada bank issuermembutuhkan nama bapak?
Dan yang terakhir ada ungkapan legendaris yang bernilai super tinggi. Surga itu di telapak kaki Ibu. Ada apakah di telapak kaki bapak? Jadi kalau ada pria mengurangajari wanita, itu ia tak sedang mengurangajari wanita yang bersangkutan, tetapi mengurangajari surga. Kok berani mati?
Samuel (rock)!
ReplyDelete